Malam itu, hujan turun dengan derasnya, seperti ribuan jari mengetuk-ngetuk atap rumah tua milik Raya. Ia duduk di balik jendela, menatap bulir-bulir air yang berjatuhan tanpa henti. Di tangannya, sebuah buku usang terbuka pada halaman yang sama sejak sejam lalu. Bukan karena ia asyik membaca, tapi pikirannya melayang ke tempat lain—ke masa lalu yang selalu datang bersamaan dengan hujan.
Tujuh tahun lalu, di hari yang serupa, Raya berdiri di halte kecil dengan seseorang yang pernah ia anggap dunia. Dio, dengan senyum lembutnya, menyerahkan payung kuning kepada Raya. “Aku nggak bisa selalu ada buat kamu, tapi payung ini bisa. Pakai, ya.” Kalimat itu mengukir perpisahan yang manis sekaligus pahit. Dio pergi ke kota lain, mengejar mimpi yang tak menyisakan tempat untuk mereka berdua.
Kini, payung kuning itu tergantung di belakang pintu. Raya selalu menolaknya setiap kali hujan tiba, seolah enggan menghidupkan kembali kenangan yang ia coba kubur. Namun, malam ini berbeda. Hujan yang deras memaksa atap bocor, dan setetes air mendarat di buku yang ia pegang. Raya tergerak, mengambil payung kuning itu dengan ragu.
Ia membuka pintu, membiarkan angin dingin malam menyentuh pipinya. Payung kuning itu terbuka dengan bunyi klik lembut, seperti menyapa pemiliknya. Raya melangkah keluar, membiarkan hujan membasahi kakinya. Jalanan sepi, hanya ada gemericik air dan suara petir di kejauhan.
“Kamu masih suka hujan?” tanya Dio, suaranya tenggelam di antara gemuruh.
Raya tak menjawab. Ia hanya mengulurkan payung kuningnya, seperti tujuh tahun lalu. Dio tersenyum, kali ini lebih hangat dari yang ia ingat.
Malam itu, hujan tak lagi terasa dingin. Di bawah payung kuning yang sama, dua jiwa yang pernah terpisah menemukan jalan kembali, diiringi simfoni hujan yang tak pernah berhenti.

Komentar
Posting Komentar