Langsung ke konten utama

Sajak Hujan di Balik Jendela

Malam itu, hujan turun dengan derasnya, seperti ribuan jari mengetuk-ngetuk atap rumah tua milik Raya. Ia duduk di balik jendela, menatap bulir-bulir air yang berjatuhan tanpa henti. Di tangannya, sebuah buku usang terbuka pada halaman yang sama sejak sejam lalu. Bukan karena ia asyik membaca, tapi pikirannya melayang ke tempat lain—ke masa lalu yang selalu datang bersamaan dengan hujan.

Tujuh tahun lalu, di hari yang serupa, Raya berdiri di halte kecil dengan seseorang yang pernah ia anggap dunia. Dio, dengan senyum lembutnya, menyerahkan payung kuning kepada Raya. “Aku nggak bisa selalu ada buat kamu, tapi payung ini bisa. Pakai, ya.” Kalimat itu mengukir perpisahan yang manis sekaligus pahit. Dio pergi ke kota lain, mengejar mimpi yang tak menyisakan tempat untuk mereka berdua.

Kini, payung kuning itu tergantung di belakang pintu. Raya selalu menolaknya setiap kali hujan tiba, seolah enggan menghidupkan kembali kenangan yang ia coba kubur. Namun, malam ini berbeda. Hujan yang deras memaksa atap bocor, dan setetes air mendarat di buku yang ia pegang. Raya tergerak, mengambil payung kuning itu dengan ragu.

Ia membuka pintu, membiarkan angin dingin malam menyentuh pipinya. Payung kuning itu terbuka dengan bunyi klik lembut, seperti menyapa pemiliknya. Raya melangkah keluar, membiarkan hujan membasahi kakinya. Jalanan sepi, hanya ada gemericik air dan suara petir di kejauhan.

“Kamu masih suka hujan?” tanya Dio, suaranya tenggelam di antara gemuruh.

Raya tak menjawab. Ia hanya mengulurkan payung kuningnya, seperti tujuh tahun lalu. Dio tersenyum, kali ini lebih hangat dari yang ia ingat.

Malam itu, hujan tak lagi terasa dingin. Di bawah payung kuning yang sama, dua jiwa yang pernah terpisah menemukan jalan kembali, diiringi simfoni hujan yang tak pernah berhenti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be The First Person To love Me

Bab 1 “Jadilah manusia pertama yang mencintaiku,” ucapnya kala itu yang tak kutanggapi dengan serius. Bukan apa-apa. Hanya saja, saat itu aku tidak merasakan sebuah keseriusan dalam perkataannya. Dia seolah sedang berucap begitu saja. Seperti bukan sesuatu yang besar. Jadi, rasanya akan sia-sia saja jika kutanggapi dengan serius. Aku menoleh ke arahnya. “Hah?” Dia yang sedang menatap jauh ke depan itu lantas ikut menoleh ke arahku. Bibirnya yang semula hanya segaris lurus kini sudah mengulas lengkungan manis khasnya. “Cobalah untuk mencintaiku,” ulangnya dengan kalimat yang berbeda. Meski begitu, aku tetap paham maksudnya. Dengan identitasnya saja, dia bukan sosok yang akan dicintai oleh para manusia yang ditemuinya. Justru mereka dengan sukarela menjauh, melarikan diri, juga jika ada tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat persembunyian di muka bumi ini, mereka akan bersembunyi sebaik mungkin. “Untuk alasan apa aku mencintaimu?” tanyaku dengan beberapa gurat lipatan menghiasi kening...

Dialog

 "Apa kau melihatnya?" "Apa?" "Mata itu. Binarnya memudar. Aku tak lagi bisa melihat titik bahagia di sana. Cerianya menghilang."  "Bagaimana mungkin?" "Tidak ada yang tidak mungkin. Seiring bertambahnya waktu, dunia turut semakin kejam memperlakukannya." "Tapi, dia masih bertahan." "Ya. Masih ada tanggung jawab yang harus dia pikul." "Dia tersenyum dan tertawa seperti biasa." "Tidak. Senyum dan tawanya tak pernah lagi mencapai manik cokelat tuanya. Dia tak benar-benar bahagia pun tak benar-benar bersedih." "Lantas kenapa harus tertawa seperti itu kalau dirasa tak ingin?" "Mungkin baginya bahagia mereka sudah seperti bahagianya." "Kenapa seperti itu? Bahagia tak melulu soal orang lain, tapi apa yang sedang kita rasa." Aku tertawa sinis mendengarnya. "Kata-kata itu hanya berlaku untuk orang yang mencintai dirinya sendiri sepertimu. Berbeda dengannya yang tak perna...

A Letter For Sister

Hai, Sister... Gimana nih kabarnya? Udah lama banget nggak sih kita LDR-an. Bahasanya LDR-an, macam kamu dengan dia aja, hahaha.... Selamat menjalani fase di mana kamu nggak akan menemukan orang yang mau membantumu menjalani hidup. Selamat menemui fase di mana kamu nggak lagi bisa menemui siapa pun yang menginginkanmu melainkan hanya untuk meminta bantuan saja. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, hanya saja memang begitulah kenyataannya. Semakin dewasa, hidup dibuat semakin berwarna-warni oleh banyaknya masalah. Semakin dibuat kacau oleh beban pikiran yang kian hari kian memberat dan carut marut.  Memperbanyak pikiran-pikiran positif dan memotivasi diri sendiri nyatanya tak berlaku sama sekali. Justru semakin lama akan terasa memuakkan bahkan ketika sedang membicarakan persoalan dunia. Tentang hal-hal yang sifatnya sementara. Seolah berniat bertukar pikiran dan beradu argumen, tapi nyatanya bertopengkan niat menyombongkan apa yang dirinya dapatkan. Entahlah. Mungkin untuk sekar...