Langsung ke konten utama

Postingan

Sajak Hujan di Balik Jendela

Malam itu, hujan turun dengan derasnya, seperti ribuan jari mengetuk-ngetuk atap rumah tua milik Raya. Ia duduk di balik jendela, menatap bulir-bulir air yang berjatuhan tanpa henti. Di tangannya, sebuah buku usang terbuka pada halaman yang sama sejak sejam lalu. Bukan karena ia asyik membaca, tapi pikirannya melayang ke tempat lain—ke masa lalu yang selalu datang bersamaan dengan hujan. Tujuh tahun lalu, di hari yang serupa, Raya berdiri di halte kecil dengan seseorang yang pernah ia anggap dunia. Dio, dengan senyum lembutnya, menyerahkan payung kuning kepada Raya. “Aku nggak bisa selalu ada buat kamu, tapi payung ini bisa. Pakai, ya.” Kalimat itu mengukir perpisahan yang manis sekaligus pahit. Dio pergi ke kota lain, mengejar mimpi yang tak menyisakan tempat untuk mereka berdua. Kini, payung kuning itu tergantung di belakang pintu. Raya selalu menolaknya setiap kali hujan tiba, seolah enggan menghidupkan kembali kenangan yang ia coba kubur. Namun, malam ini berbeda. Hujan yang deras ...
Postingan terbaru

Serpihan 4

Rasanya mau mati aja. Di titik tertentu, aku juga begitu. Menangis tersedu memunguti kembali puing-puing kehancuran diri sendiri satu per satu. Saat itu, saat aku merenungi betapa sakit, hancur, muak, dan bencinya hatiku atas ketidakberdayaan diriku sendiri, yang bisa kulakukan hanyalah menerima sembari terus berjalan maju. Bahkan seberapa sulit pun sebuah kondisi, aku harus tetap hidup dengan " aku bisa mengatasi ini sendiri ". Sebab, di luar sana, iblis pun tahu. Tidak ada pilihan lagi selain itu.

Serpihan 3

Rasanya mau mati aja. Tapi, apakah benar ketika kematian itu mendatangi, aku tidak akan merasa kesulitan lagi? Benarkah aku bisa menemukan ketenangan dari sebuah kematian itu sendiri? Rasanya itu masih menjadi tanda tanya yang tak kunjung menemukan jawabnya sebelum kematian itu sendiri menarikku pada ketiadaan.  

Serpihan 2

  Rasanya mau mati aja. Kalimat itu sudah seperti mantra yang mencuat dari mulutku tanpa kusadari. Entah itu saat aku sedang tak berdaya atau justru baik-baik saja. Berulang kali, tanpa aku sadari seolah sudah tertanam kuat di alam bawah sadarku bahwa sesungguhnya aku benar-benar mengharapkan kematian itu sendiri. Seolah aku dengan sungguh-sungguh berharap untuk terdampar di titik pemberhentian yang sebenarnya. Sebuah pemberhentian yang nyatanya sulit untuk diraih. Untuk tetap bertahan saja sudah sesulit itu , tetapi ternyata untuk berhenti pun tak kalah menyulitkan . Aku sempat tak habis pikir oleh kesadaran akan satu hal pahit itu. Kita diciptakan sebagai makhluk bumi yang katanya sempurna jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Tapi yang menjadi bahan pertanyaanku adalah kalau memang manusia itu makhluk paling sempurna, kenapa manusia menjadi makhluk paling tidak berdaya dika dihadapkan pada kondisi yang tak diharapkan? Kalau memang manusia itu makhluk paling sempurn...

Serpihan 1

Rasanya mau mati aja. Kalimat yang selalu saja meluncur dari bibirku tiap kali ketidakberuntungan menghampiri. Kalimat itu juga yang semakin sering terdengar saat aku berada di tahun terakhir masa kuliah. Rasanya, kata mati tidak semenakutkan rangkaian sidang yang harus aku lalui di masa mendatang. Entahlah. Intinya, aku merasa bahwa diriku tidak memiliki kompetensi sehingga sanggup untuk melalui semua itu.  

00: Selamat Tinggal, Langit

     “Dia sudah membuangmu! Kenapa kamu terus setia padanya? Kenapa kamu selalu melakukan hal bodoh?” seru seorang wanita begitu panggilan teleponnya tersambung.      Seorang wanita muda yang usianya kini sudah mencapai kepala dua itu termenung sesaat. Sebelah tangannya masih setia bertengger di sisi telinganya menyangga benda persegi tipis yang sedang mengeluarkan suara seseorang dari seberang sana.      “Karena aku mirip Ibu,” jawab wanita muda itu. Kedua netranya tampak seolah sedang diselimuti kilauan kristal bening.      Dari seberang sana, wanita yang menjadi lawan bicaranya itu terdengar terkejut sekaligus tak terima. “Apa?”      Wanita muda yang bergelar sebagai seorang anak bagi ibunya itu seolah tak terusik. Dia tak merasa apa yang sedang dilakukannya merupakan sebuah kesalahan. Toh , semua yang dia katakan adalah kebenaran yang selama ini dicapai kedua netranya tanpa ada yang mencoba untuk memberikann...

Aku Sengaja Jatuh Cinta Diam-Diam

Aku sengaja jatuh cinta diam-diam agar bisa bertahan di dekatnya sebagai teman. Ada banyak batasan-batasan yang harus aku jaga agar dia tetap nyaman, salah satunya dengan berpura-pura. Berpura-pura terlihat biasa saja ketika melihatnya tertawa kecil padahal nyatanya jantungku berdegup kencang, rasa bahagianya sampai tidak bisa aku ungkapkan. Tapi, perasaan bahagia itu aku tekan hingga tidak terdeteksi. Tujuannya agar dia tetap di sini. "Kenapa nggak bilang aja?" Karena aku takut dia pergi kalau tahu kenyataannya. Sederhananya, aku tidak percaya diri jika menyangkut tentangnya. Dia yang terlihat begitu indah hingga terasa sulit digapai manusia bumi sepertiku. Biarlah cinta ini tidak menuntut apa pun sehingga tidak perlu membebaninya. Bagiku, ada di dekatnya sebagai teman sudah cukup indah, dan tahu hal kecil tentangnya sudah merupakan sebuah keajaiban. Selalu di sampingnya sebagai teman juga banyak keuntungannya. Aku jadi tahu dia ingin dicintai seperti apa dari cerita-cerita...

Tulisan Paling Kacau

Tidak perlu dibaca. Tulisan ini benar-benar kacau dan minim informasi berguna. Hahaha.   It's okay to cry for a little while. We'll just keep trying to find a way out. In another life, another time, maybe we'll be alright. Pernah mendengar lirik lagu ini? Yah, itu lagunya Arash Buana yang berjudul We'll be okay, for today . Berulang kali lagu ini diputar bahkan sudah menjadi playlist wajib acapkali aku ingin mendengarkan musik. Bukan. Aku bukan sedang ingin menangis. Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa aku masih manusia. Aku masih memiliki hati. Aku masih memiliki hak sebagai seorang manusia di bumi. Aku ... hah, aku masih hidup . Hahaha. Ini menggelikan saat menyebut diri sendiri masih hidup padahal memang itu kenyataannya. Oh, maaf. Maksudku bukan perihal apa-apa, hanya saja ini seolah akan menjadi hal yang cukup tidak bisa diterima oleh banyak pihak. Yah, aku hanya bisa menuturkan kata maaf yang tanpa kusadari terus menerus berulang dalam kepala hingg...

Dialog

 "Apa kau melihatnya?" "Apa?" "Mata itu. Binarnya memudar. Aku tak lagi bisa melihat titik bahagia di sana. Cerianya menghilang."  "Bagaimana mungkin?" "Tidak ada yang tidak mungkin. Seiring bertambahnya waktu, dunia turut semakin kejam memperlakukannya." "Tapi, dia masih bertahan." "Ya. Masih ada tanggung jawab yang harus dia pikul." "Dia tersenyum dan tertawa seperti biasa." "Tidak. Senyum dan tawanya tak pernah lagi mencapai manik cokelat tuanya. Dia tak benar-benar bahagia pun tak benar-benar bersedih." "Lantas kenapa harus tertawa seperti itu kalau dirasa tak ingin?" "Mungkin baginya bahagia mereka sudah seperti bahagianya." "Kenapa seperti itu? Bahagia tak melulu soal orang lain, tapi apa yang sedang kita rasa." Aku tertawa sinis mendengarnya. "Kata-kata itu hanya berlaku untuk orang yang mencintai dirinya sendiri sepertimu. Berbeda dengannya yang tak perna...

Perihal Melepaskan Yang Tak Pernah Menjadi Mudah

The sunset is beautiful, isn't it? Sepertinya tak berlaku bagiku.  Kalimat itu sendiri mengindikasikan bahwa orang tersebut sudah merelakan hal yang selama ini mereka genggam dengan sangat-sangat erat hingga mereka menyadari bahwa mau sekeras apa pun usaha mereka untuk membuatnya tetap bertahan, yang namanya butiran pasir tak akan pernah bisa benar-benar tergenggam sempurna . Ia akan meluruh sedikit demi sedikit melalui celah-celah jemari yang menegang kuat. Dan, kita baru akan menyadari bahwa yang kita genggam selama ini hanyalah udara kosong saat ia sudah terlepas sepenuhnya. Kata merelakan itu sendiri sudah bukan lagi hal asing dalam hidup. Kehadirannya pun tak pernah benar-benar semu. Ia selalu ada. Kapan pun. Di mana pun. Meski begitu, kita seolah dibuat tak tahu apa-apa, entah memang benar-benar tak tahu atau itu hanya sekedar tabir penghalang yang diciptakan oleh pusat pengontrol tubuh sebagai langkah awal penyangkalan dari keberadaannya. Bagiku, merelakan sudah bukan lagi ...