Langsung ke konten utama

Aku Sengaja Jatuh Cinta Diam-Diam

Aku sengaja jatuh cinta diam-diam agar bisa bertahan di dekatnya sebagai teman. Ada banyak batasan-batasan yang harus aku jaga agar dia tetap nyaman, salah satunya dengan berpura-pura. Berpura-pura terlihat biasa saja ketika melihatnya tertawa kecil padahal nyatanya jantungku berdegup kencang, rasa bahagianya sampai tidak bisa aku ungkapkan. Tapi, perasaan bahagia itu aku tekan hingga tidak terdeteksi. Tujuannya agar dia tetap di sini.

"Kenapa nggak bilang aja?"

Karena aku takut dia pergi kalau tahu kenyataannya. Sederhananya, aku tidak percaya diri jika menyangkut tentangnya. Dia yang terlihat begitu indah hingga terasa sulit digapai manusia bumi sepertiku. Biarlah cinta ini tidak menuntut apa pun sehingga tidak perlu membebaninya. Bagiku, ada di dekatnya sebagai teman sudah cukup indah, dan tahu hal kecil tentangnya sudah merupakan sebuah keajaiban. Selalu di sampingnya sebagai teman juga banyak keuntungannya. Aku jadi tahu dia ingin dicintai seperti apa dari cerita-ceritanya. Aku juga jadi tahu apa yang menjadi mimpi-mimpinya dari binar matanya yang tak pernah tak cantik tiap kali dia bercerita.  

Tuhan, aku tahu cintaku tak akan selamanya tak menuntut. Aku tahu, aku tak akan selamanya diam, tapi semoga aku bisa bertahan selama mungkin karena melihatnya bahagia adalah kebahagiaanku.

Komentar

  1. Aku penasaran rasanya jatuh cinta, tapi dengar seburuk apa kisah orang lain. Rasanya aku jadi ragu, hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Be The First Person To love Me

Bab 1 “Jadilah manusia pertama yang mencintaiku,” ucapnya kala itu yang tak kutanggapi dengan serius. Bukan apa-apa. Hanya saja, saat itu aku tidak merasakan sebuah keseriusan dalam perkataannya. Dia seolah sedang berucap begitu saja. Seperti bukan sesuatu yang besar. Jadi, rasanya akan sia-sia saja jika kutanggapi dengan serius. Aku menoleh ke arahnya. “Hah?” Dia yang sedang menatap jauh ke depan itu lantas ikut menoleh ke arahku. Bibirnya yang semula hanya segaris lurus kini sudah mengulas lengkungan manis khasnya. “Cobalah untuk mencintaiku,” ulangnya dengan kalimat yang berbeda. Meski begitu, aku tetap paham maksudnya. Dengan identitasnya saja, dia bukan sosok yang akan dicintai oleh para manusia yang ditemuinya. Justru mereka dengan sukarela menjauh, melarikan diri, juga jika ada tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat persembunyian di muka bumi ini, mereka akan bersembunyi sebaik mungkin. “Untuk alasan apa aku mencintaimu?” tanyaku dengan beberapa gurat lipatan menghiasi kening...

Dialog

 "Apa kau melihatnya?" "Apa?" "Mata itu. Binarnya memudar. Aku tak lagi bisa melihat titik bahagia di sana. Cerianya menghilang."  "Bagaimana mungkin?" "Tidak ada yang tidak mungkin. Seiring bertambahnya waktu, dunia turut semakin kejam memperlakukannya." "Tapi, dia masih bertahan." "Ya. Masih ada tanggung jawab yang harus dia pikul." "Dia tersenyum dan tertawa seperti biasa." "Tidak. Senyum dan tawanya tak pernah lagi mencapai manik cokelat tuanya. Dia tak benar-benar bahagia pun tak benar-benar bersedih." "Lantas kenapa harus tertawa seperti itu kalau dirasa tak ingin?" "Mungkin baginya bahagia mereka sudah seperti bahagianya." "Kenapa seperti itu? Bahagia tak melulu soal orang lain, tapi apa yang sedang kita rasa." Aku tertawa sinis mendengarnya. "Kata-kata itu hanya berlaku untuk orang yang mencintai dirinya sendiri sepertimu. Berbeda dengannya yang tak perna...

A Letter For Sister

Hai, Sister... Gimana nih kabarnya? Udah lama banget nggak sih kita LDR-an. Bahasanya LDR-an, macam kamu dengan dia aja, hahaha.... Selamat menjalani fase di mana kamu nggak akan menemukan orang yang mau membantumu menjalani hidup. Selamat menemui fase di mana kamu nggak lagi bisa menemui siapa pun yang menginginkanmu melainkan hanya untuk meminta bantuan saja. Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, hanya saja memang begitulah kenyataannya. Semakin dewasa, hidup dibuat semakin berwarna-warni oleh banyaknya masalah. Semakin dibuat kacau oleh beban pikiran yang kian hari kian memberat dan carut marut.  Memperbanyak pikiran-pikiran positif dan memotivasi diri sendiri nyatanya tak berlaku sama sekali. Justru semakin lama akan terasa memuakkan bahkan ketika sedang membicarakan persoalan dunia. Tentang hal-hal yang sifatnya sementara. Seolah berniat bertukar pikiran dan beradu argumen, tapi nyatanya bertopengkan niat menyombongkan apa yang dirinya dapatkan. Entahlah. Mungkin untuk sekar...